Jumat, 25 Oktober 2013

makalah praktek jenazah

BAB I
PENDAHULUAN

Syariat Islam mengajarkan bahwa setiap manusia pasti akan mengalami kematian yang tidak pernah diketahui kapan waktunya. Sebagai makhluk paling sempurna ciptaan Allah SWT dan ditempatkan pada derajat yang tinggi, maka islam sangat menghormati orang muslim yang telah meninggal dunia. Oleh sebab itu, menjelang seorang manusia akan menghadapi keharibaan Allah SWT,maka orang yang telah meninggal dunia mendapatkan perhatian khusus dari muslim lainnya yang masih hidup.
Dalam ketentuan hukum Islam jika seorang muslim meninggal dunia maka hukumnya fardhu kifayah atas orang-orang muslim yang masih hidup untuk menyelenggarakan 4 perkara, yaitu memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan orang yang telah meninggal tersebut.








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Memandikan Jenazah
Setiap orang muslim yang meninggal dunia harus dimandikan, dikafani dan dishalatkan terlebih dahulu sebelum dikuburkan terkecuali bagi orang-orang yang mati syahid. Hukum memandikan jenazah orang muslim menurut jumhur ulama adalah fardhu kifayah. Artinya, kewajiban ini dibebankan kepada seluruh mukallaf di tempat itu, tetapi jika telah dilakukan oleh sebagian orang maka gugurlah kewajiban seluruh mukallaf.

Adapun dalil yang menjelaskan kewajiban memandikan jenazah ini terdapat dalam sebuah hadist Rasulullah SAW, yakninya:
عن ا بن عبا س ا ن ا لنبي صلى ا لله عليه و سلم قا ل: فى ا لذ ي سقط عن ر ا حلته فما ت ا غسلو ه بما ء و سد ر (رواه ا لبخرو مسلم)
Artinya: “Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi SAW telah bersabda tentang orang yang jatuh dari kendaraannya lalu mati, “mandikanlah ia dengan air dan daun bidara.” (H.R Bukhari dan Muslim)

A.    Orang yang Utama Memandikan Jenazah
a.       Untuk Jenazah Laki-Laki
Orang yang utama memandikan jenazah laki-laki adalah orang yang diwasiatkannya, kemudian bapak, kakek, keluarga terdekat, muhrimnya dan istrinya.
b.      Untuk Jenazah Perempuan
Orang yang utama memandikan jenazah perempuan adalah ibunya, neneknya, keluarga terdekat dari pihak wanita serta suaminya.
c.       Untuk Jenazah Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan
Untuk jenazah  anak laki-laki boleh perempuan yang memandikannya dan sebaliknya untuk jenazah anak perempuan boleh laki-laki yang memandikannya.
d.      Jika seorang perempuan meninggal sedangkan yang masih hidup semuanya hanya laki-laki dan dia tidak mempunyai suami, atau sebaliknya seorang laki-laki meninggal sementara yang masih hidup hanya perempuan saja dan dia tidak mempunyai istri, maka jenazah tersebut tidak dimandikan tetapi cukup ditayamumkan oleh salah seorang dari mereka dengan memakai lapis tangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, yakninya:

اذ ما تت ا لمر أ ة مع ا لر جا ل ليس معحم ا مر أ ة غير ها و ا لر جل مع النسا ء ليس معهن ر جل غيره فأ نهما ييممان و يد فنا ن و هما بمنز لة من لم يجد ا لما ء (رواه ه بو داود و ا لبيحقى)
Artinya: “Jika seorang perempuan meninggal di tempat laki-laki dan tidak ada perempuan lain atau laki-laki meninggal di tempat perempuan-perempuan dan tidak ada laki-laki selainnya maka kedua mayat itu ditayamumkan, lalu dikuburkan, karena kedudukannya sama seperti tidak mendapat air.” (H.R Abu Daud dan Baihaqi)

e.      Muslim, berakal, dan baligh
f.       Berniat memandikan jenazah
g.       Jujur dan sholeh
h.     Terpercaya, amanah, mengetahui hukum memandikan mayat sebagaimana dalam syari’at islam serta mampu menutupi aib si mayit. 

B.    Mayit yang wajib untuk dimandikan
a.       Mayat seorang muslim dan bukan kafir
b.      Bukan bayi yang keguguran dan jika lahir dalam keadaan sudah meninggal tidak dimandikan
c.       Ada sebagian tubuh mayit yang dapat dimandikan
d.      Bukan mayit yang mati syahid 
Bagi jenazah yang mati syahid tidak boleh dimandikan, dikafani dan dishalatkan berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW:
انَّ النّبيّ صلىّ اللّه عليه وسلّم لم يغسل قَتْلَ احُدٍ ولَمْ يُصلِّ عليْهِمْ (رواه البخرى)
Artinya : “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW tidak memandikan para korban perang uhud dan tidak pula menyalatkan mereka.” (HR. Bukhari)
Adapun hukum memandikan seseorang yang mati dalam peperangan melawan orang-orang musyrik (mati syahid) menurut jumhur ulama tidak wajib dimandikan, karena ia mati dalam keadaan syahid.
   Menurut imam syafi’i tidak wajib memandikan orang mati syahid, karena mereka akan menemui Allah dengan segala luka dan darah yang ada pada tubuh mereka. Luka bagaikan perhiasan yang menghiasi tubuh mereka dan darah bagaikan minyak wangi yang menaburkan bau harum di hadapan Allah.
C.     Tata cara memandikan jenazah
Berikut beberapa cara memandiakan jenazah orang muslim, yaitu:
1. Perlu diingat, sebelum mayat dimandikan siapkan terlebih dahulu segala sesuatu yang dibutuhkan untuk keperluan mandinya, seperti:
a. Gunting, untuk menggunting pakaian si mayit sebelum dimandikan.
b. Sarung tangan bagi petugas yang memandikan mayit.
c. Sabut penggosok (spons).
d. Alat penumbuk dan cawan besar untuk menghaluskan kapur barus.
e. Perlak plastik atau sejenisnya.
f. Sidr (perasan daun bidara), bila sulit didapatkan boleh menggantinya dengan shampoo dan sabun.
g. Kapur barus.
h. Masker bagi petugas.
i. Kapas.
j. Air.
k. Minyak wangi kesturi.
l. Plester perekat.
m. Gunting kuku dan rambut.
n. Handuk atau sejenisnya
o. Sisir
p. Kain kafan; dua lembar berwarna putih bersih dan satu kain putih bergaris (hibarah) atau tiga lembar seluruhnya berwarna putih bersih bagi laki-laki.
q. Tempat memandikan pada ruangan yang tertutup.

2. Ambil kain penutup dan gantikan kain basahan sehingga aurat utamanya tidak kelihatan.
3. Mandikan jenazah pada tempat yang tertutup.
4. Pakailah sarung tangan dan bersihkan jenazah dari segala kotoran.
5. Ganti sarung tangan yang baru, lalu bersihkan seluruh badannya dan tekan perutnya perlahan-lahan.
6. Tinggikan kepala jenazah agar air tidak mengalir kearah kepala.
7. Masukkan jari tangan yang telah dibalut dengan kain basah ke mulut jenazah, gosok giginya dan bersihkan hidungnya, kemudiankan wudhukan.
8. Siramkan air kesebelah kanan dahulu kemudian ke sebelah kiri tubuh jenazah.
9. Mandikan jenazah dengan air sabun dan air mandinya yang terakhir dicampur dengan wangi-wangian.
10. Perlakukan jenazah dengan lembut ketika membalik dan menggosok anggota tubuhnya.
11. Memandikan jenazah satu kali jika dapat membasuh ke seluruh tubuhnya itulah yang wajib. Disunnahkan mengulanginya beberapa kali dalam bilangan ganjil.
12. Jika keluar dari jenazah itu najis setelah dimandikan dan mengenai badannya, wajid dibuang dan dimandikan lagi. Jika keluar najis setelah di atas kafan tidak perlu diulangi mandinya, cukup hanya dengan membuang najis itu saja.
13. Bagi jenazah wanita, sanggul rambutnya harus dilepaskan dan dibiarkan menyulur kebelakang, setelah disirim dan dibersihkan lalu dikeringkan dengan handuk dan dikepang. 
14. Keringkan tubuh jenazah setelah dimandikan dengan kain sehingga tidak membasahi kain kafannya.
15. Selesai mandi, sebelum dikafani berilah wangi-wangian yang tidak mengandung alkohol.








2.2  Mengkafani Jenazah
Mengkafani jenazah adalah menutupi atau membungkus jenazah dengan sesuatu yang dapat menutupi tubuhnya walau hanya sehelai kain. Hukum mengkafani jenazah muslim dan bukan mati syahid adalah fardhu kifayah. Dalam sebuah hadist diriwayatkan sebagai berikut:

ها جر نا سع ر سو ل ا لله صلى ا لله عليه و سلم كلتمس و جه ا لله فو قع ا جرنا على الله فمنا من ما ت لم يأ كل من ا جر ه شأ منهم مصعب ا بن عمير قتل يو م ا حد فلم نجد ما لكفنه ا لا بر د ة, ا ذا غطينا بها ر أ سه خر جت ر جلا ه, و ا ذا غطينا بها ر جليه حر ج ر أ سه فأ مر نا ا لنبي صلى ا لله عليه و سلم ا ن نغطي ر أ سه و ا ن نجعلعلى ر جليه من ا لا ذ خر (رواه ا لبخا ر ى)
Artinya: “Kami hijrah bersama Rasulullah SAW dengan mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka tentulah akan kami terima pahalanya dari Allah, karena diantara kami ada yang meninggal sebelum memperoleh hasil duniawi sedikit pun juga. Misalnya, Mash’ab bin Umair dia tewas terbunuh diperang Uhud dan tidak ada buat kain kafannya kecuali selembar kain burdah. Jika kepalanya ditutup, akan terbukalah kakinya dan jika kakinya tertutup, maka tersembul kepalanya. Maka Nabi SAW menyuruh kami untuk menutupi kepalanya dan menaruh rumput izhir pada kedua kakinya.”(H.R Bukhari)
Hendaklah kain kafan tersebut dibeli dari harta si mayit.Hendaklah didahulukan membeli kain kafannya dari melunaskan hutangnya, menunaikan wasiatnya dan membagi harta warisannya. Jika si mayit tidak memiliki harta, maka keluarganya boleh menanggungnya.
A. Cara Mengukur Kain Kafan
Panjang: Ukur panjang mayit dengan meteran dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki dengan melebihkannya kira kira 60 cm. Contoh: seandainya panjang mayit 170 cm, maka ditambah 60 cm sehingga keseluruhan panjang 230 cm. penambahan panjang kain disesuaikan agar dapat mengikat ujung kepala dan ujung kaki.
Lebar: Ukur lebar mayit mulai dari ujung bahu kanan mayit hingga ujung kiri, kemudian hasil pegukuran dikalikan tiga. Contoh: jika lebar mayit 40 cm, maka lebar kain yang dibutuhkan 40 x 3 = 120 cm.

B.    Hal-hal yang disunnahkan dalam mengkafani jenazah
1.      Kain kafan yang digunakan hendaknya kain kafan yang bagus, bersih dan menutupi seluruh tubuh mayat.
2.      Kain kafan hendaknya berwarna putih.
3.     Jumlah kain kafan untuk mayat laki-laki hendaknya 3 lapis, sedangkan bagi mayat
      perempuan 5 lapis.
4.      Sebelum kain kafan digunakan untuk membungkus atau mengkafani jenazah, kain kafan hendaknya diberi wangi-wangian terlebih dahulu.
5.      Tidak berlebih-lebihan dalam mengkafani jenazah.

C.  Tata Cara Mengkafani Jenazah 
1.      Untuk mayat laki-laki 
a.       Bentangkan kain kafan sehelai demi sehelai, yang paling bawah lebih lebar dan luas serta setiap lapisan diberi kapur barus.
b.      Angkatlah jenazah dalam keadaan tertutup dengan kain dan letakkan diatas kain kafan memanjang lalu ditaburi wangi-wangian.
c.       Tutuplah lubang-lubang (hidung, telinga, mulut, kubul dan dubur) yang mungkin masih    
      mengeluarkan kotoran dengan kapas.
d.   Kedua tangan mayat diletak ke atas badannya, tangan kanan diletak di atas di atas tangan  
      kirinya (sedekap) atau kedua-dua tangannya diluruskan menurut badannya.
e.      Selimutkan kain kafan sebelah kanan yang paling atas, kemudian ujung lembar sebelah kiri.   
      Selanjutnya, lakukan seperti ini selembar demi selembar dengan cara yang lembut.
f.       Ikatlah dengan tali yang sudah disiapkan sebelumnya di bawah kain kafan tiga atau lima 
      ikatan.
g.       Jika kain  kafan tidak cukup untuk menutupi seluruh badan mayat maka tutuplah bagian kepalanya dan bagian kakinya yang terbuka boleh ditutup dengan daun kayu, rumput atau kertas. Jika seandainya tidak ada kain kafan kecuali sekedar menutup auratnya saja, maka tutuplah dengan apa saja yang ada.



2.      Untuk mayat perempuan
Kain kafan untuk mayat perempuan terdiri dari 5 lemabar kain putih, yang terdiri dari:
a.       Lembar pertama berfungsi untuk menutupi seluruh badan.
b.      Lembar kedua berfungsi sebagai kerudung kepala.
c.       Lembar ketiga berfungsi sebagai baju kurung.
d.      Lembar keempat berfungsi untuk menutup pinggang hingga kaki.
e.       Lembar kelima berfungsi untuk menutup pinggul dan paha

Adapun tata cara mengkafani mayat perempuan yaitu:
a. Susunlah kain kafan yang sudah dipotong-potong untuk masing-masing bagian dengan tertib. Kemudian, angkatlah jenazah dalam keadaan tertutup dengan kain dan letakkan diatas kain kafan sejajar, serta taburi dengan wangi-wangian atau dengan kapur barus.
b. Tutuplah lubang-lubang yang mungkin masih mengeluarkan kotoran dengan kapas.
c. Kedua tangan mayat diletak ke atas badannya, tangan kanan diletak di atas di atas tangan kirinya (sedekap) atau kedua-dua tangannya diluruskan menurut badannya.
d. Tutupkan kain pembungkus pada kedua pahanya.
e. Pakaikan sarung.
f. Pakaikan baju kurung.
g. Dandani rambutnya dengan tiga dandanan, lalu julurkan kebelakang.
h. Pakaikan kerudung.
i.     Membungkus dengan lembar kain terakhir dengan cara menemukan kedua ujung kain kiri dan kanan lalu digulungkan kedalam.
j. Ikat dengan tali pengikat yang telah disiapkan.

D.    Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam mengkafani jenazah
1.     Dimakruhkan melebihi batasan kain kafan dari yang ditentukan.
2.     Yang paling utama mengkafani adalah yang diberi wasiat, kemudian kerabat terdekat dan               
        selanjutnya.
3.      Membeli kain kafan dengan harta si mayit, kalau tidak ada maka keluarga yang         menanggungnya, dan bila tidak ada juga diambil dari harta kaum Muslimin (Baitul Mal).
4.      Para Ulama membenci membakar kain kafan.
5.      Dilarang memasukkan wewangian ke dalam mata mayit.
6.      Disunnahkan bilangan ikatan berjumlah ganjil.
7.      Untuk mayit anak laki-laki menggunakan tiga helai kain, sedangkan untuk anak perempuan dua helai kain & satu ghamis.
8.      Bila kain kafan tidak mencukupi, maka tutup bagian kepalanya sedang sisanya ditutup dengan ilalang atau rumput.
2.3  Menshalatkan Jenazah
Menurut ijma ulama hukum penyelenggaraan shalat jenazah adalah fardhu kifayah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, yang berbunyi:
صلو ا على مو تا كم (رواه ابن ما جه)
Artinya: “Shalatilah orang yang meninggal dunia diantara kamu”
Allah menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang ikut menyalatkan jenazah, seperti dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang artinya: “Dari Abu hurairah ra., bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW berkata: “Siapa yang keluar bersama jenazah dari rumahnya , kemudian ia ikut menshalatkan dan mengiringinya sampai ke pemakaman untuk memakamkannya, baginya pahala sebesar dua bukit. Dan siapa yang ikut menshalatkannya kemudian ia pulang kerumahnya (tidak ikut ke pemakaman), baginya pahala sebesar gunung Uhud.” (HR. Muslim)
Shalat jenazah boleh dilaksanakan sendirian jika yang hadir hanya sendirian, namun lebih dianjurkan dilaksanakan secara berjamaah dan dalam jumlah yang banyak.





Rasulullah SAW bersabda:
عَنِ ابْنِ عبّاسٍ قال سَمِعْثُ رسول اللهِ صلى الله عليه وسلّم يَقول ما من رجُلٍ مسْلمٍ يَموْ تُ فيَققُوْمُ جنا زتهِ اربعُوْنَ رجلاً لايشر كوْن باالله شيْءًا اِلاَّ شفعهُمُ اللهُ فيهِ (رواه احمد و مسلم) 
Artinya: “Dari Ibnu abbas katanya, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,” Orang islam yang mati, lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang muslim yang tidak musyrik, maka Allah menerima syafaat mereka terhadap jenazah tersebut.” (HR. Ahmad dan Muslim) 
A.   Orang Paling Utama untuk Menshalatkan
a.       Orang yang diwasiatkan si mayat dengan syarat tidak fasik atau tidak ahli bid’ah.
b.      Ulama atau pemimpin terkemuka ditempat itu.
c.       Orang tua si mayat dan seterusnya ke atas.
d.      Anak-anak si mayat dan seterusnya ke bawah.
e.       Keluarga terdekat.
f.       Kaum muslimim seluruhnya.

B.  Tata cara Menshalatkan Jenazah 
1.      Niat shalat jenazah
Niat shalat jenazah dilakukan dalam hati serta ikhlas karena Allah SWT. Sebelum shalat jenazah dilakukan maka kepada imam dan seluruh makmum hendaknya berwudhu dan menutup aurat. Untuk menyalatkan mayat laki-laki imam berdiri sejajar dengan kepala si mayat, sedangkan untuk mayat perempuan, imam berdiri di tengah-tengah sejajar pusat si mayat.Jika mayitnya anak laki-laki & perempuan, maka posisi imam berdiri seperti pada posisi mayit wanita dewasa.
Lafadz niat shalat jenazah:
a.       Untuk mayat laki-laki
ا صلى على هذ اا لميت ار بع تكبير ا ت فر ض كفا ية مأ مو ما/ ا ما ما لله تعا لى
“Sengaja aku berniat shalat atas mayat laki-laki empat takbir fardhu kifayah menjadi makmun/imam karena Allah ta’ala”
b.      Untuk mayat perempuan
ا صلى على هذ اا لميتة ار بع تكبير ا ت فر ض كفا ية مأ مو ما/ ا ما ما لله تعا لى
“Sengaja aku berniat shalat atas mayat perempuan empat takbir fardhu kifayah menjadi makmun/imam karena Allah ta’ala”
2.      Takbir 4 kali
a.       Takbir pertama dimulai dengan mengangkat tangan dan membaca Al-Fatihah.
b.      Takbir kedua dan membaca shalawat
ا للهم صل على محمد و على ا ل محمد كما صليت على ا بر ا هيم و على ا ل ا براهيم و با رك على محمد و على ا ل محمد كما با ر كت على ا بر ا هيم و على ا ل ا بر هيم فى ا لعا لمين ا نك حميد مجيد.
Artinya: “Ya Allah berikanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana engkau telah memberikan kesejahteraan kepada Ibrahim dan keluarganya. Berkatilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi bijaksana”

c.       Takbir ketiga dan membaca do’a untuk si mayat
ا للحم ا غفر له (ها) و ا ر حمه (ها) و عا فه(ها) و ا عف عنه (ها) و ا كر م نز له (ها) ووسع مد خله (ها) و ا غسله (ها) بما ء و ثلج و بر د و نقه (ها) من ا لخطا يا كم ينقى ا لثو ب من ا لد نس و ا بد له (ها) دا را خيرا من دا ر ه  (ها) و ا هلا خيرا من ا هله (ها) و ادخله (ها) ا لجنة و ا عنذ ه (ها) من عذا ب ا لقبر و عذا ب ا لنا ر.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, kasihilah dia, maafkanlah dia dan sentosakanlah dia, muliakan tempatnya, lapangkanlah kuburnya, sucikanlah dia dengan air embun dan es, sucikanlah dia dari kesalahannya, sebagaimana sucinya kain putih dari kotoran. Gantikanlah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada rumahnya, dan gantikan keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, masukkan ia ke dalam syurga, dan jauhkan ia dari siksa kubur dan siksa neraka.”
d.      Takbir keempat lalu diam sejenak dan membaca do’a
ا للحم لا تحر منا ا جر ه (ها) ولا تفتنا بعد ه (ها) و ا غفر لنا و له (ها)
Artinya: “Ya Allah janganlah Engkau tahan untuk kami pahalanya dan janganlah engkau tinggalkan fitnah untuk kami setelah kepergiannya”



2.4 Menguburkan Jenazah
Para fuqaha sepakat bahwa menguburkan jenazah adalah fardu kifayah sebagaimana halnya memandikan, mengafani, dan menyalatkan. Kewajiban menguburkan ini ditetapkan berdasarkan QS. Al-Mursalat 25-26 dan QS. Abbasa 21.
Rasulullah memerintahkan menguburkan jenazah dengan sesegera mungkin, sabda beliau:
2 عَن ابى هريرة عن النبي صلّى الله عليه وسلم قال: اَسْرِعُوْا بِا لجَنَازة فَاِنْ َتكُ َصا ِلحَةً فَخَيْرٌ تُقَدُّمو نَهَا اِلَيْهِ وَاِنْ تَكُ سِوَى ذلك فَشّرٌ تَضَعُوْ نَهُ عَنْ رِقَا بِكُمْ (متفق عليه)
“Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, sabdanya: “Uruslah jenazah itu sesegera mungkin, karena jika ia saleh maka lebih baik anda serahkan ia kepada kebaikannya, dan kalau ia tidak baik anda letakkan kejahatannya di atas pundaknya.” (HR. Mutafaq Alaih)
Hikmah dari penguburan mayat adalah agar kemuliaan dan kehormatannya sebagai manusia dapat terjaga dan tidak menyerupai bangkai hewan, karena Allah telah menjadikan manusia sebagai makhluk-Nya yang mulia. Selain itu, agar yang hidup tidak merasa terganggu oleh bau yang tidak baik yang timbul dari jasadnya.
A.   Tata cara Menguburkan Jenazah
1. Membuat liang lahat sedalam 1,5 m, lebar 1 m dan panjang 2,25 m
2. Masukkanlah mayat dari arah kakinya, jika tidak ada kesulitan.
2.      Bagi mayat perempuan, ketika menguburkannya disunnahkan ditirai dengan kain.
3.      Bagi mayat perempuan yang memasukkannya kedalam kuburan hendaklah muhrimnya.
4.      Letakkan mayat di lahat dalam posisi miring ke kanan dan mukanya menghadap ke kiblat. Rapatkan ke dinding kuburan supaya tidak bergeser dan berikan bantalan di bagian belakang dengan gumpalan tanah agar tidak terbalik ke belakang.
5.      Ketika hendak memasukkan jenazah keliang lahat, disunatkan  membaca lafadz:
                                                                                                             بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ
                                                    “ Dengan menyebuat asma Allah dan atas agama Rasulullah”
6.      Lepaskan ikatan kain kafan di bagian kepala dan kaki mayat.
7.      Setelah selesai meletakkan mayat di dalam kuburan, terlebih dahulu mayat di tutup dengan kabin (kepingan-kepingan tanah, papan) barulah di timbun dengan tanah.
8.      Disunnahkan sebelum menimbun kuburan meletakkan tiga genggam tanah pada bagian kepala, pinggang dan kaki.
9.   Ketika menimbun  jenazah, disunahkan untuk menabur tanah tiga kali dengan tiga cakupan
 tanah disertai membaca sebagian Surat Thaha ayat 55 sebagai berikut :
a.  Cakupan pertama ditaburkan diarah atas kepala jenazah dengan membaca  
           مِنْهَا خَلَقْنَكُمْ  
  “dari bumi Aku ( Allah ) menciptakanmu”.
b.  Cakupan kedua ditaburkan diarah atas badan jenazah dengan membaca   
وَفِيْهَا نُعِيْدُ كُمْ
                          “dan didalam bumi Aku ( Allah ) kembalikan kamu semua”.
c.   Cakupan ketiga ditaburkan diarah atas kaki jenazah dengan membaca

                                                                                                وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرَى 
                           “dan dari bumi Aku ( Allah ) keluarkan kamu semua ( kebangkitan kubur )”.


B.   Hal-hal yang dianjurkan setelah menguburkan jenazah
a. Tinggikan kuburan (20 cm) dari tanah sebagai tanda bahwa itu adalah kuburan.
b. Boleh memberi tanda kuburan dengan batu atau sejenisnya.
c. Membundarkannya lebih baik daripada meratakannya.
d. Meninggikan kubur sekitar sejengkal dari permukaan tanah, tidak diratakan, supaya dapat dikenal dan dipelihara serta tidak dihinakan.
e. Berdiri di kubur sambil mendoakan dan memerintahkan kepada yang hadir supaya mendoakan dan memohonkan ampunan juga.
f. Makruh duduk dan berdiri di atas kuburan dan haram buang air di atas kuburan.